Aku
Adalah Musuhku
Karya:
Wulan Ratnasari, S.Pd.
Gelap…
Saat ku terbangun dari tidur siang.
Rasanya hanya sebentar tapi kini sudah gelap. Tanganku menggapai mencari celah
cahaya yang mungkin saja tertutup. Tanganku berhenti dan mulai meraba-raba apa
yang ada di sebelah kanan tubuhku. Basah. Tidak, ini lembab. Tapi ini apa? Baru
saja otakku mencari jawaban tiba-tiba ada yang memukul wajahku dengan keras.
“Byur!...” suara air yang terasa
begitu dingin.
“Bangun!! Kau tidak akan pergi
kuliah?” teriak ibu seraya membangunkanku.
Alarm HP ku tidak terdengar, aku
sama sekali tidak mendengar apapun. Aku langsung mandi secepat kilat karena
hari ini ada jadwal praktikum di kampus.
Aku tidak bisa beranjak memikirkan
mimpi yang tadi terjadi dalam tidurku. Terasa begitu nyata sehingga aku
merasakan kesakitan saat wajahku dipukul. Satu hal lagi, apa yang sudah aku
peagang tadi?
Masih dalam kebingungan, Kelly
–sahabat lamaku- menghampiriku dengan
dua gelas es kopi di tangannya. Tentunya dia langsung memberikan salah satunya
kepadaku.
Menikmati kopi di bawah pohon rindang
membuatku menjadi melamun. Ya, isi lamunanku adalah mimpiku tadi.
Hari mulai gelap, matahari kembali
ke peraduannya. Begitupun dengan aku yang sejak jam 5 sore sudah berada di
rumah. Hari ini tidak begitu melelahkan, namun rasa kantuk cepat sekali
menghampiri.
Pukul 8 malam aku sudah masuk
kamar, bermain game sambil rebahan di kasur adalah kegiatan yang paling aku
suka. Tiba-tiba mataku mulai mengatup dan aku tertidur.
“Bagaimana? Airnya dingin kan?”
suara yang aku kenali.
Perlahan mataku terbuka dan betapa
terkejutnya saat melihat apa yang ada di hadapanku. Sontak aku mundur sambil
terus terpana melihat sosok itu.
“Tidak usah takut, aku adalah
dirimu. Akulah yang kemarin hadir di mimpimu. Aku jugalah yang sering
mengganggu lamunanmu” ujarnya dengan tatapan tajam.
Aku terdiam sambil setengah
menganga. Wajahnya, tubuhnya, suaranya, dan semuanya sama persis dengan aku.
“Musuh terbesarmu adalah aku!
Akulah musuh terbesar dalam hidupmu. Kalahkan aku atau aku yang akan
mengalahkanmu!”
Suara adzan subuh berkumandang…
Aku kembali tersadar dari mimpiku
malam ini. Kalimat terakhirnya terngiang-ngiang di telingaku seperti dia sedang
berbisik. Ya! Benar! Akulah yang harus mengalahkannya. Termasuk semua hal buruk
yang ada dalam diriku.
Terimakasih diriku karena sudah mengingatkan.

No comments:
Post a Comment