Bully
Karya: Adeliani
“Culun! Culun!” teriak beberapa
orang.
“Diam!!!” ucap Sinta sambil
meneteskan air mata.
“Guys, si culun udh mulai berani
sama kita.” ucap Edo.
‘Plakkk’ satu tamparan menegenai
pipi Sinta, siapa lagi kalu bukan Anisa. Sinta pun pasrah saja.
“Eh culun, kamu itu gak pantas
ada di sekolah ini” ucap Anisa. Dia pun merobek buku Sinta. Sinta hanya diam
tidak berani melawan.
Sinta sudah terbiasa dibully
setiap ahri. Bullyan itu selalu menyertai Sinta sampai-sampai tasnya
diinjak-injak oleh mereka.
“Kalian semua jahat. Kenapa
kalian terus menerus membully aku?” teriak Sinta sambil menangis.
Sinta berlari meninggalkan kelas
menuju gerbang. Dia sudah tidak tahan lagi berada di sekolah. Untung saja
gerbang sekolah terbuka, jadi Sinta bisa kabur dari sekolah. Sambil menangis
dia menyebrangi jalan raya tanpa melihat ada sebuah mobil yang sedang melaju
kencang. Sinta pun tertabrak hingga terpental. Orang-orang yang melihat
kejadian itu langsung menolong Sinta dan membawanya ke rumah sakit. Tidak lama
setelah itu orang tua Sinta datang ke rumah sakit. Mereka menangis melihat
anaknya tak sadarkan diri. Setelah menunggu operasi yang cukup lama, dokter pun
keluar dan mengatakan bahwa Sinta tidak dapat diselamatkan.
Proses pemandian Sinta pun sudah selesai.
Jenazah Sinta langsung di bawa ke rumahnya. Kabar meninggalnya Sinta sudah
tersebar di sekolah. Teman-teman Sinta datang dengan rasa duka yang mendalam.
Tak terduga, Edo dan Anisa juga datang. Mereka langsung bersimpuh kepada
bundanya Sinta dan meminta maaf karena sudah membully Sinta.
Orang tua Sinta memaafkan dan
tidak menyalahkan siapapun atas kejadian ini. Berkat kejadian ini, teman-teman
Sinta berubah menjadi orang yang lebih baik.

No comments:
Post a Comment